Sebelumnya munz telah menulis tentang “Masih adakah calon istri yang bersahaja?”. Sepertinya ‘tidak adil’ kalau munz juga tidak menulis tentang “suami ideal”.
Menikah, sebagaimana telah disebutkan dalam tulisan sebelumnya, adalah fitrah, ibadah, dan lain-lain tergantung bagaimana mau dipandang. Wanita dalam pernikahan bukan hanya sebagai ‘objek’ pria, pasangan pria, atau sosok yang ‘menunggu dan pasrah’. Wanita juga boleh memilih, bahkan wanita boleh kok meminta walinya untuk menikahkan dengan seseorang pria yang dicintainya.
Wanita tidak perlu terus menunggu jodohnya, tetapi pencarian jodoh ini juga jangan sampai merendahkan harga diri wanita itu sendiri. Wali yang akan menikahkan seseorang HARUS meminta izin persetujuan calon mempelai wanitanya. Terlepas pernikahan itu memang pilihan wanita atau pilihan walinya, yang terpenting adalah bagaimana memilih ‘suami ideal’ agar keluarga yang dibina merupakan keluarga bahagia serasa di surga, bukan keluarga berantakan bagai neraka dunia.
Berikut ini mungkin dapat menjadi gambaran sosok ‘suami ideal’ yang tentu saja, tiap orang pasti berbeda kriterianya.
1. Suami, dalam keadaan marah seperti apapun tidak akan melakukan KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga. ‘Suami ideal’ senantiasa sabar, walaupun sikap istri yang ‘membangkang’. Sabar di sini bukan diam tanpa kata dan tanpa kerja. Sabar dalam arti telaten untuk membimbing istri untuk menjadi lebih baik, dan ketika dirasa perlu adanya ‘peringatan’ berupa kekerasan, suami tidak pernah memukul bagian wajah!
2. Bertanggung jawab. ‘Suami ideal’ senantiasa melakukan segala daya usaha untuk memenuhi kewajiban sebagai pencari dan pemberi nafkah keluarga. Pantang menyerah usaha menghidupi dan membahagiakan keluarga, tetapi tetap dalam jalur yang halal. Kecurangan tidak perlu dilakukan hanya untuk mendapatkan rupiah yang lebih banyak!
3. Mengayomi dan memberi teladan. Cukup jelas kan?
4. Ketika akan melakukan poligami, ‘suami ideal’ akan menyampaikannya dengan cara yang elegan dan bijak. Dia akan memberi pencerahan dengan sangat lembut kepada istrinya mengenai esensi poligami dengan segala resikonya. Dia tidak akan melakukan tindak kekerasan hanya untuk meminta izin untuk menikah lagi. Dia akan memberi pencerahan bahwa poligami bukan tanda tidak setia atau tidak puas dengan istrinya. Pria yang monogami juga tidak serta merta menandakan bahwa pria tersebut setia! Tidak ada korelasi antara kesetiaan dengan pendapat seseorang mengenai monogami atau poligami, karena bisa dilihat bahwa untuk tidak setia dan tetap monogami mudah saja. Kesetiaan merupakan sifat dan karakter budi seseorang, dan itu tidak berhubungan langsung dengan sikap penolakan seseorang terhadap poligami. Ketika pria sudah tidak setia (baca : mencintai wanita lain), dia akan dengan mudah (sebagaimana wanita juga dengan mudah) mencari-cari alasan untuk bercerai. Ya, untuk tetap mempertahankan pendapatnya tentang monogami, dia akan menceraikan istrinya dan menikahi wanita lain. Berbeda dengan sikap berpoligami. Sikap tersebut juga tidak serta merta menandakan bahwa pria itu tidak setia! Ketika seorang pria melakukan poligami bukan berarti kalau dia sudah tidak cinta istri pertama dan mencintai istri kedua, ketiga, atau keempat. Sikap menikah lagi justru menandakan kalau pria tersebut masih mencintai istri pertama, kalau sudah tidak cinta mengapa repot-repot mempertahankan? Lebih baik diceraikan saja seperti kasus sebelumnya tadi, bebas, nafkah yang menjadi kewajibannya tidak akan sebesar ketika dia berpoligami. Tetapi tidak demikian, pria tersebut masih mencintai istri pertamanya, walaupun dia juga mencintai wanita lain. Munz kira pengertian berpasangan bukan hanya sepasang, satu dengan satu. Seperti halnya kembar yang tidak hanya kembar dua, bisa tiga, empat, atau berapapun. Berpasangan juga tidak hanya satu dengan satu, bisa satu dengan dua, tiga, atau empat.
Hehe..
Nomor empat paling banyak ya kata-katanya. Selalu menarik memang membicarakan poligami dengan segala kontroversinya. Menarik. Munz pernah baca salah satu artikel di internet, kalau tidak salah disitu disebutkan (kurang-lebihnya) bahwa “Wanita penentang poligami itu aneh! Mereka berjuang untuk emansipasi wanita, persamaan hak antara wanita dengan pria. Tetapi mereka justru menentang persamaan hak antara wanita dengan wanita. Hak wanita untuk dicintai dan mencintai. Mengapa wanita tidak mau berbagi kabahagiaan untuk bisa bersama-sama mencintai dan dicintai suami yang sama”.
Memang quote tersebut bukan persis tertulis dalam artikel tersebut, tapi itulah yang dapat munz pahami setelah baca artikel tersebut. Poligami tidak hanya sekedar menikah lagi. Poligami tidak hanya sekedar beristri lebih dari satu. Poligami tidak sesederhana itu! Poligami bukan alat pembenaran bagi pria hidung belang yang memang tidak puas hanya dengan satu istri. Ketika seorang suami berniat melakukan poligami pahamilah bahwa hal tersebut semata-mata untuk mendapatkan kebaikan bagi dia dan keluarganya (baca : keluarga besarnya).






0 komentar:
Poskan Komentar