Sabtu kemarin tanggal 14 februari 2009 ada teman smu yang menikah.
Menarik, karena memang satu persatu teman-teman telah menjalani tahap yang lebih maju, lebih baik, MENIKAH.
Semua orang tahu, menikah adalah fitrah, menikah adalah ibadah, dan menikah adalah bla bla yang lain..
Ketika manusia sedang bingung akan melakukan sesuatu, beberapa ada yang merenung atau mengkhayal sesuatu di masa depan untuk mengalihkan kebingungan (daripada stress karena bingung).
Bagi Munz, menikah adalah masa depan. Yup, masa depan yang setiap orang juga memikirkannya. Tetapi pernikahan yang seperti apa sih yang sidambakan setiap orang? Munz yakin pasti berbeda tiap orang.
Menarik, judul di atas mungkin kurang bisa menggambarkan maksud seluruh tulisan ini, dan ketika ada pembaca yang menafsirkan menurut latar belakang pemikirannya, dan mungkin berbeda, menurut Munz itu sah-sah saja. Dan silahkan gunakan semua potensi pikiran untuk turut merenung mengenai pernikahan ini.
Calon istri yang “ideal” pasti berbeda tiap orang, tetapi berikut ini mungkin bisa jadi gambaran :
1. ketika calon suami meminang (dengan catatan calon suami tersebut baru merintis karir), calon istri yang “ideal” dengan rasa cinta dan penuh percaya akan menerima dan yakin dia akan hidup bahagia bersama. Keadaan calon suami yang sukses (rumah,mobil,gaji yang istimewa), wajar kalau langsung diterima pinangannya, tetapi “lebih romantis” ketika pinangan itu diterima ketika keadaan calon suami yang masih sederhana dan baru merintis kehidupan, merintis masa depan. Ketika pinangan diterima ketika (DAN HANYA KETIKA) calon suami sudah mapan secara ekonomi, bukankah patut ditanyakan alasannya (CINTA ATAU EKONOMI??!!)
2. ketika suami sedang marah, maka istri dengan caranya yang anggun dan cerdas akan mendinginkan suasana hati suaminya, apapun caranya, mungkin dengan senyum manisnya, mungkin dengan lembut kata suaranya, istri yang “ideal” selalu punya cara dan alternatif cara untuk selalu bisa mendinginkan emosi suaminya. Istri yang tidak baik bukannya mendinginkan tetapi malah bersikap sebaliknya, ketika suami marah, dia akan lebih marah agar mengalahkan suaminya.
3. ketika ekonomi keluarga sedang kritis, dan ada peluang untuk melakukan korupsi, istri yang “ideal” akan mengingatkan suaminya dan berkata yang menyejukkan hati bahwa ‘setelah kesulitan ada kemudahan’. Istri yang tidak baik pasti akan mendukung korupsi suaminya, atau bahkan ketika suami tidak memiliki inisiatif korupsi, maka dia akan mengomel kalau suami tidak becus cari uang dan akan menyuruh korupsi ‘gajimu tidak cukup untuk beli mobil mewah, untuk jalan-jalan ke luar negeri, beli baju mahal tiap minggu, korupsi tapi jangan sampai ketahuan’
ah entah lah.. menikah urusan nanti lah.. yang penting sekarang konsentrasi garap skripsi!






0 komentar:
Poskan Komentar